Rabu, 19 Oktober 2011

makalah


MENINGKATKAN EFEKTIVITAS MEMBACA
DENGAN STRATEGI SKEMATA
Oleh: Hikmatul Fitriyah
A.  PENDAHULUAN
Kegiatan membaca merupakan jendela dunia, dengan banyak membaca berarti seseorang dapat memperoleh berbagai informasi  yang berkembang baik yang sifatnya lokal, nasional maupun yang global. Melalui kegiatan membaca seseorang dapat belajar mengenai berbagai hal mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang kompleks.
Namun dalam era globalisasi saat ini manusia dihadapkan pada persoalan bagaimana mengatasi keterbatasan waktu dan dalam waktu yang singkat dapat membaca dengan memperoleh informasi yang maksimal sehingga tidak ada waktu yang terbuang secara percuma. Permasalahannya adalah bagaimana dapat diperoleh keterampilan membaca yang efektif. Pembelajaran membaca yang efektif itu sendiri masih perlu dipertanyakan.
Kegiatan membaca merupakan proses kreatif dan konstruktif, ada syarat agar seseorang dapat memahami apa yang akan dibaca, yaitu adanya peranggapan yang sama anatara pembaca dan penulis. Selain itu, persoalan lain yang terkait dengan masalah membaca itu banyak pula misalnya skemata, baik yang terkait dengan bahasa, topik, maupun faktor lain diluar bahasa. Skemata pembaca sangat berperan bagi keberhasilan kegiatan membaca, keterampilan membaca tidak diperoleh secara mendadak, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama dan latihan terus menerus  (akhdiah dkk, 1991/1992: 24). Jadi untuk dapat membaca dengan efektif seseorang harus terbiasa dahulu dengan kegiatan membaca agar diperoleh pengetahuan yang dapat mempermudah dalam memahami suatu bacaan dalam waktu yang singkat.

B. LANDASAN TEORI
1. Konsep Membaca
            Menurut Harris dan Sippay (Zuchdi 2008: 19), Membaca dapat didefinisikan “penafsiran yang bermakna terhadap bahasa tulis”. Hakikat kegiatan membaca adalah memperoleh makna yang tepat. Pengenalan kata dianggap sebagai suatu prasyarat yang diperlukan bagi komprehensi bacaan, tetapi pengenalan kata tanpa komprehensi sangat kecil nilainya.
            Berikut definisi membaca menurut para ahli (zuchdi, 2008: 21-22). Menurut Emerald V Dechant membaca adalah proses pemeberian makna terhadap suatu tulisan, sesuai dengan maksud penulis. Definisi membaca menurut David Russel adalah tanggapan terhadap pengertian yang dinyatakan penulis dalam kata, kalimat, paragraf atau bentuk yang lebih panjang. Dalam hal ini, termasuk juga proses penemuan pengertian baru secara pribadi oleh pembaca. Menurut Miles A Tinker dan Contasc M Mc Cullough, membaca melibatkan proses identifikasi dan proses mengingat suatu bahan yang disajikan sebagai rangsangan untuk membangkitkan pengalaman dan membentuk pengertian baru melalui konsep-konsep yang relevan yang telah dimiliki oleh pembaca.  
Sedangkan menurut Burns (Suhardi dan Zamzani, 2005: 189) dijelaskan bahwa, Membaca dapat dilihat sebagai suatu proses dan sebagai suatu hasil. Membaca sebagai suatu proses merupakan semua kegiatan dan teknik yang ditempuh oleh pembaca yang mengarah melalui tujuan melalui tahap-tahap tertentu . Proses tersebut berupa penyandian kembali yang sering disebut dengan decodding dan pemberian makna pada sandi yang umumnya dikenal dengan pemahaman makna. Kegiatan dimulai dari pengenalan huruf, kata, ungkapan, kalimat, sampai pada jenjang wacana. Membaca sebagai suatu proses mencakup beberapa tahap, dan agar dapat memberikan makna terhadap apa yang dibaca diperlukan pengetahuan dan pengalaman, baik bahasa maupun nonbahasa itu disebut frame, scenarios, encyclopaedic entry, dan yang paling umum disebut dengan istilah schema (skemata) (kartomihardjo, 1999:2). Skemata banyak digunakan oleh pembaca atau pendengar untuk menyusun interpretasi terhadap sesuatu yang baru, yang baru didengar, daiamati, atau dibaca. Dalam prosesnya, benak manusia mencari-cari skemata yang telah dimiliki, dicocokan dengan yang sesuai atau mirip dengan sesuatu yang baru saja didengar atau dibacanya (kartomihardjo, 1999: 1). Keluasan skemata sangat mempengaruhi keberhasilan membaca karena pembaca tentu harus mengenali konsep dan makna kosakata serta setting yang terdapat dalam bacaan.
Membaca sebagai suatu hasil adalah dicapainya suatu komunikasi pikiran dan perasaan anatara penulis dan pembaca. Komunikasi dapat terjadi bergantung pada pemberian makna pembaca (pemahaman pembaca) yang dihasilkan melalui proses membaca. Pemberian makna bacaan itu sangat dipengaruhi oleh skemata linguistik dan nonlinguistik pembacanya. Pembaca yang memiliki skemata yang luas dan kaya akan memiliki peluang yang luas pula untuk memberikan makna dan konsep serta menentukannya yang paling relevan dengan konteksnya, dan hal itu tidak terjadi pada pembaca yang memiliki skemata yang sempit. Hal tersebut didasari oleh pemikiran dan asumsi bahwa penulis mengungkapkan gagasannya menggunakan alur pikir tertentu dan mengikuti sistem sandi bahasa yang digunakannya (Suhardi dan Zamzani 2005: 192-193).
Dalam buku Wiryodijoyo (1989:1-2) juga dijelaskan bahwa membaca adalah salah satu ketrampilan yang berkaitan erat dengan keterampilan dasar terpenting pada manusia, yaitu berbahasa.dengan bahasa manusia dapat berkomunikasi dengan sesamanya. Apabila dalam berbahasa orang mau berpikir tenang dan menggunakan perasaan yang jernih,maka akan terciptalah komunikasi yang jelas, sehingga terhindarah salah faham antara satu dengan yang lain. Banyak para ahli yang memberikan definsi tentang membaca., berikut diterakan berbagi pendapat mengenai kegiatan membaca.
a.       Membaca adalah proses medapatkan arti dari kata-kata tertulis. (Heilman)
b.      Membaca adalah sebuah proses berpikir, yang termasuk didalamnya mengartikan, menafsirkan arti, dan menerapkan ide-ide dari lambang. (Carter)
c.       Membaca adalah dua tingkat proses dari penerjemahan dan pemahaman: pengarang menulis pesan berupa kode (tulisan), dan pembaca mengartikan kode itu. (Carol)
d.      Membaca adalah proses psikologis untuk menentukan arti kata-kata tertulis. Membaca melibatkan penglihatan, gerak mata, pembicaraan batin, ingatan, pengetahuan mengenai kata yang dapat dipahami, dan pengalaman pembacanya. (Cole)
e.       Membaca adalah proses membentuk arti dari teks-teks tertuis. (Anderson, Richard C.)
f.       Membaca ialah pengucapan kata-kata dan perolehan arti dari barang cetakan. Kegiatan itu melibatkan analisis, dan pengorganisasian berbagai ketrampilan yang kompleks. Termasuk didalamnya pelajaran, pemikiran, pertimbangan, perpaduan, pemecahan masalah, yang berarti menimbulkan kejelasan informasi (bagi pembaca).
Komunikasi pembaca antara pembaca dan penulis itu sendiri dapat terjadi karena adanya kesamaaan pengetahuan dan asumsi daiantara mereka. Oleh sebab itu, dalam kegiatan membaca sesungguhnya pembaca melakukan suatu proses interaksi anatar pikiran, mata, dan teks yang dibacanya yang merupakan representasi lawan komunikasi. Didalam pikiran pembaca, bagi pembaca yang sudah mempunyai pengetahuan dan konsep yang telah menjadi skemata tersebut.terjadi interaksi dengan teks melalui mata. Dalam interaksi tersebut pembaca menganalisis makna, baik makna formal maupun makna situasional/ kontekstual dengan memanfaatkan skematanya (Suhardi dan Zamzani 2005: 193-194).
Sujanto (1989: 5-6) kegiatan membaca sebagai salah satu kegiatan menyimak, tidak lain adalah juga merupakan kegiatan komunikasi, karena membaca tidak lain adalah menerima pesan dari buku-buku. Telah disebutkan diatas, bahwa informasi yang kita terima itu tidak selalu langsung kita pahami maknanya. Hal itu disebabkan oleh beberapa kemungkinan:
a.       bahasanya tidak kita kuasai: kita bisa mendengar orang asing berbicara dengan bahasa mereka, tetapi kita tidak dapat menangkap maknanya.
b.      Ada istilah-istilah yang tidak kita pahami:; meskipun istilah itu hanya merupakan bahagian kecil dari bahasa yang katakanlah ita kuasai, namun penggunan istilah-istilah yang tidak kita mengerti akan merupakan gangguan terhadap pemprosesan informasi.
c.       Informasi itu sendiri terlalu sulit bagi kita sebagai pembaca, karena sama sekali belum ada persepsinya atau informasi yang relevan untuk mengolahnya. Misalnya saja para mahasiswa yang bukan dari program atau jurusan eksakta, akan sangat sulit, atau bahkan tidak mengerti sama sekali bila membaca buku tentang teori atom.
2. Membaca Secara Efektif
            Kita masing-masing mempunyai kebiasaan atau cara membaca. Namun satu hal yang harus diusahakan adalah kemampuan membaca yang semakin cepat tetapi juga semakin intensif dan efektif. Semakin intensif yang dimaksudkan adalah cermat dalam menyerap dan menilai pesan-pesan atau informasi yang terkandung dalam bahan bacaan dalam waktu sesingkat mungkin. Semakin efektif berarti semakin cepat dan tepat mencari suatu informasi yang benar-benar anda perlukan saja. seringkali untuk mecari suatu informasi anda hanya perlu melihat sejenak indeks yang terdapat dibagian belakang buku-buku teks untuk mengetahui pada halaman-halaman berapa informasi yang anda perlukan itu dapat ditemukan. Atau dengan terlebih dahulu melihat daftar isi anda juga dapat mengetahui didalam bab atau bagian mana terdapat informasi yang anda perlukan ( Sujanto: 7).      
3. Strategi Membaca
Strategi adalah metode khusus untuk mendekati masalah atau tugas langgam-langgam operasi untuk meraih tujuan tertentu, rancangan tersebut untuk mengendalikan dan memaaanipulasi informasi tertentu. Oxford & Ehrman (1998, h. 8) mendefinisikan strategi pembelajaran bahasa kedua sebagai” tindakan, perilaku, langkah, atau teknik spesifik yang dipakai untuk meningkatkan pembelajaran mereka sendiri”. Ia adalah “siasat tempur” yang disesuaikan dengan konteks yang mungkin bervariasi dari waktu kewaktu, atau dari satu situasi ke situasi yang lain atau dari waktu ke waktu, atau dari satu situasi ke situasi yang lain., atau bahkan dari satu budaya kebudaya yang lain. Strategi bervariasi di dalam diri seseorang.    
Secara garis besar dapat dikenal tiga jenis model membaca, yakni model membaca top-down, bottom-up, dan interaction. Pada prinsipnya model membaca top-down berupa kegiatan membaca dengan urutan pemaknaan judul atau penafsiran topik, pemahama atau pemaknaan konteks situasi kegiatan membaca secara intensif, dan penetapan makna secara final. Model membaca bottom-up pada prinsipnya berupa kegiatan pemberian makna bacaan secara otomistis, yaitu berupa tahapan pengenalan dan pemaknaan kata, menghubungkan kata dengan kata, istilah dengan istilah, frasa dengan frasa, kalimat dengan kalimat sampai paragraf, menghubungkan paragraf dengan paragraf sampai akhirnya keseluruhan teks sebagaia wujud wacana. Model membaca interaction merupakan perpaduan dua model tersebut (cook dan Ellias dalam Suhardi dan Zamzani 2005).
            Terlepas dari ketiga model pembelajaran membaca tersebut yang jelas seseorang akan dapat memberikan makna teks bacaan dengan baik. Seseorang yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan wawasan tentang dunia yang lebih banayak dan luas, ia akan memiliki peluang yang lebih baik dalam pemaknaan bacaan, bila dibandingkan dengan seseorang yang memeilki skemata yang lebih sedikit. Tentu saja, skemata tersebut dapat memberikan sumbangan yang berarti terhadap pemaknaan bacaan bila didayagunakan dengan baik. Agar seseorang dapat mendayagunakan skemata untuk keperluan pemaknaan bacaaan, diperlukan yang terstruktur dan strategi yang tepat.
3. Skemata
pengalaman dan pengetahuan yang luas (skemata) merupakan faktor yang sangat penting dalam membaca. Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang sesuai dengan materi bacaan, pembaca mampu mengenali dan memahami konsep-konsep dan kata-kata yang dibacanya, selanjutnya mampu memahami makna kata-kata tersebut dengan tepat dan cepat. Pengalaman merupakan dasar pembentukan konsep-konsep dan konsep-konsep adalah dasar penguasaan kosakata (perbendaharaan kata).
Pengetahuan yang dicapai sebelum seseorang membaca sangat mempengaruhi keberhasilan membaca. Pengetahuan ini berpengaruh kepada pemahaman di setiap tingkat proses pemahaman. Dalam tingakat penyimpulan, ia menentukan yang mana kesimpulan perlu dibuat. Pada tingkat penyimpanan, ia menentukan mana informasi-informasi yang perlu disimpan, dalam bentuk apa disimpan, dan apakah ia akan diproduksi kembali?
Untuk mengurangi kemungkinan adanya prasangka yang disebabkan adanya pengetahuan ini digunakan sejumlah kutpan dari topik-topik yang berbeda. Keuntungannya adalah bahwa pembaca yag lebih luas pengetahuannya kemungkinan besar bekerja lebih baik dalam mengerjakan tes itu. Bila pengenalan kata berjalan dengan baik, tetapi pemahaman lemah kekurangan pengetahuan ini mungkin merupakan faktor yang menambah kelemahan itu. Satu cara menilai pengetahuan mengenai topik adalah menyajikan tiga kata kunci mengenai isi kutipan yang ditanyakan kepada murid agar membayangkan dengan bebas dalam ingatan bila mendengar setiap kata. Bayang-bayangan ini dinilai yang menunjukan banyak atau sedikit pengetahuan itu (Wiryodijoyo, 1989:15-16).
 Menurut John Mcneill (Suhardi dan Zamzani 2005: 190), schemata adalah pembaca “konsep, keyakinan, harapan, proses- hampir semuanya dari pengalaman masa lalu yang digunakan dalam pengertian membaca dalam membaca, skemata yang digunakan untuk memahami teks; yang kata yang dicetak membangkitkan pengalaman pembaca, serta hubungan masalalu dan potensi.
Berikut adalah beberapa karakteristik dari schemata menurut Anderson (hernowo
:196)
:
1.       Schemata selalu terorganisir bermakna, dapat ditambahkan ke, dan, sebagai pengalaman keuntungan individu, mengembangkan untuk memasukkan variabel yang lebih banyak dan spesifisitas lebih.
2.       Setiap skema yang tertanam di schemata lain dan dirinya sendiri mengandung subschema.
3.       Schemata perubahan dari saat ke saat sebagai informasi diterima.
4.       Mereka mungkin juga akan ditata ulang ketika data masuk mengungkapkan perlu merestrukturisasi konsep.
5.       Representasi mental yang digunakan selama persepsi dan pemahaman, dan yang berkembang sebagai hasil dari proses-proses ini, bergabung membentuk keseluruhan yang lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya.
 Skema (schemata jamak) adalah struktur mental hipotetis untuk mewakili konsep generik yang tersimpan dalam memori. Ini adalah semacam kerangka kerja, atau rencana. Schemata adalah diciptakan melalui pengalaman dengan orang-orang, benda, dan peristiwa di dunia.
Dua jenis schemata paling sering dibahas dalam penelitian membaca adalah schemata formal dan schemata konten. schemata formal adalah struktur tatanan yang lebih tinggi mengandung pengetahuan tentang struktur organisasi retoris, termasuk pengetahuan tentang sifat-sifat umum jenis teks dan perbedaan dalam genre (Carrell & Eisterhold dalam Hernowo: 201).  Jenis lain dari skema yang membawa pembaca untuk teks adalah skema konten, pengetahuan relatif ke domain isi teks.  Konten schemata sendiri dapat diklasifikasikan ke dalam jenis yang berbeda. Salah satu bunga yang menarik banyak tumbuh adalah skema konten budaya-spesifik. Beberapa studi penutur kedua bahasa dan pemahaman bacaan menunjukkan bahwa pengalaman budaya sebelumnya sangat penting dalam memahami teks.

C.KESIMPULAN
            Agar dapat memberikan makna terhadap apa yang dibaca diperlukan pengetahuan dan pengalaman baik. Berdasarkan analisis di atas, membaca yang baik melibatkan di sedikitnya tiga faktor: cengkeraman subyek membaca, pemahaman terhadap isi budaya secara implisit atau eksplisit dinyatakan, dan kemampuan untuk mengatasi tidak diketahui kata dan struktur gramatikal dalam bagian tersebut. Berbekal schemata konten, bagaimanapun, penekankan pada interaksi dari tiga faktor, dan pengetahuan latar belakang tertentu, yang jauh melampaui pengetahuan linguistik. Oleh karena itu, harus sangat sensitif terhadap masalah yang membaca hasil dari pengetahuan budaya implisit diandaikan oleh teks. Dalam latar belakang pengetahuan yang relevan membaca dan bahasa harus dibahas secara bersamaan.
Menjadi fasih melibatkan pembaca menemukan koneksi untuk memiliki kehidupan dan membuat satu bagian informasi baru dari pengetahuan sendiri satu. Pengembangan keterampilan berprinsip fleksibel yang dapat diterapkan pada tugas membaca yang berbeda adalah salah satu hal yang paling efektif dari membaca. Teori Skema menawarkan wawasan tentang pengetahuan cara adalah dibangun tetapi jauh dari pembukaan lengkap dari proses misterius membaca.
D. Daftar Pustaka
Akhaidah, Sabarti dkk. 1991/1992.  Bahasa Indonesia I. Jakarta: P2LPTK Ditjen Dikti Depdikbud.
Kartomihardjo, Soesono. 1999. Memahami Teks Khusus dengan Menggunakan Analisis Wacana. Makalah disajikan dalam pelba 13 (pertemuan linguistik (pusat kajian) bahasa dan budaya atmajaya ke-13) dipusat kajian baasa dan budaya UNIKA Atma Jaya, Jakarta, 26-27 Juni 1999.
Zuchdi, Darmiyati. 2008. Strategi Meningkatkan Kemampuan Membaca. Yogyakarta: UNY.
Zamzani, Suhardi. 2005. Strategi Pendayagunaan Skemata Mahasiswa Dalam Pembelajaran Membaca: Upaya Meningkatkan Efektivitas Membaca. Yogyakarta: Litera FBS UNY.
Martiningsih. September 2008. Mengapa Kebiasaan Membaca Masih Belum Berkembang?. Jakarta: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Wiryodijoyo, Suwaryono. 1989. Membaca: Strategi Pengantar dan Tekniknya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Hernowo. 2002. Mengikat Makna. Bandung: Kaifa.
Sujanto, Ch. 2008. Keterampilan Berbahasa Membaca- Menulis- Berbicara Untuk Mata Kuliah Dasar Umum Bahasa Indonesia. Jayapura: FKIP Uncen Jayapura.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar